Seorang Santri di Jambi Jadi Korban Perundungan Senior Hingga Dilarikan ke RS

Seorang Santri di Jambi Jadi Korban Perundungan Senior Hingga Dilarikan ke RS

Jambitoday – Menjadi korban perundungan (bullying) oleh dua seniornya, salah seorang santri di Pondok Pesantren Tawakal, Kota Jambi kelas VII dilarikan ke Rumah Sakit. Santri tersebut berinisial APD 12 tahun. Akibat perundungan (bullying) yang di lakukan oleh seniornya, santri tersebut mengalami luka lebam pada bagian paha dan cidera pada bagian kelamin.

Alami luka yang cukup serius, santri tersebut harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Jambi.

Orang tua santri bernama Rikarno Diwi mengatakan jika anaknya mengalami luka lebam dan cidera pada bagian kelamin, karena digesek secara keras menggunakan kaki oleh seniornya. Mulut anak saya di tutup, tangannya dipegang, kakinya juga dipegang secara kuat dipaksa dan terus kaki pelaku itu nendang kemaluan anak saya. Anaknya mendapatkan perundungan (bullying) yang cukup parah. Pasalnya saat anaknya sedang kesakitan, seniornya itu justru malah menginjak perut anaknya. Luka lebam di kanan kiri paha, kemaluan sampai testisnya atau biji kemaluannya bengkak dan diperut juga.

Para pelaku yang melakukan perundungan (bullying) terhadap anaknya itu, bukan teman sebaya anaknya. Para pelaku merupakan senior yang sudah lulus, namun mengabdi di Pondok Pesantren tersebut. Pelaku itu sendiri bernama Rosad dan Firman. Pelaku sudah lulus sekolah SMA, sedangkan anak saya masih kelas 7 SMP.

Kondisi anaknya saat ini sudah mulai membaik dan sudah bisa buang air besar. Karena selama 3 hari anaknya tidak bisa buang air besar dan buang angin. Anaknya juga mendapatkan perawatan secara intensif.

Santri tersebut sudah membaik dan sudah keluar, sekarang di Rumah Sakit Bhayangkara untuk melakukan visum. Santri tersebut harus dibawa ke psikolog, karena psikis anaknya terganggu. Anaknya bukan kali pertama menjadi korban perundungan (bullying). Pertama kali mendapatkan perlakuan perundungan (bullying) pada bulan September di asrama putra, mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan seperti didorong dan dijepit ke lemari besi. Saat kali pertama dibully santri tersebut mengalami urat saraf belakangnya terjepit hingga bahunya bengkak. Namun pelaku merupakan orang yang berbeda dan di tempat yang berbeda.

Rikarno Diwi menyampaikan jika pada September lalu, anaknya sempat ditanya soal kenyamanan ketika belajar di Pondok Pesantren tersebut. Namun anaknya terdiam hingga menangis kepada orang tuanya. Setelah itu orang tuanya juga bertemu kepada guru sebanyak 4 guru dan 2 pamong. Pihak pesantren menyampaikan jika akan ditindaklanjuti, namun yang terjadi urat saraf anak saya kejepit itu pada September dan sangat saya sayangkan. Bahkan bukti saya bawa anak untuk urut, saya sampaikan dan kirim tapi tidak direspon. Pihak pondok pesantren tidak mengetahui langsung didepan mata saat kejadian perundungan tersebut. Namun setelah kasus ini mencuat baru pihak pondok pesantren menghubungi orang tuanya.

Rikarno Diwi juga menyampaikan jika dari pihak pondok sudah ada itikad baik dengan menjenguk di rumah sakit. Pihaknya sempat ngobrol mediasi ada itikad baik.

Tidak terima dengan kejadian tersebut, sang orang tua datang ke Polda Jambi untuk melaporkan kedua pelaku yang telah tega melakukan perundungan terhadap anaknya, hingga di mengalami luka fisik dan mental.

“Kami menindaklanjuti pendamping kami dari PPA Dinsos dan KPAI untuk melaporkan kejadian ini, untuk sementara ini laporan terkait anak saya yang di rawat di RS,” Ungkap Rikarno Diwi.

Laporan tersebut, teruang dalam laporan polisi nomor STPL /343/XI /2023/ SPKT/ Polda Jambi tanggal 30 November 2023.

Pengawas Yayasan Tri Sukses Jambi, Hasan mengatakan jika pihaknya telah mempertemukan mendamaikan pihak keluarga anak itu dan pelaku. Sudah damai-damai tidak ada permasalahan, sampai sekarang sudah di amankan, tidak ada efek sampingnya lagi ke masyarakat yang lain. Karena itu sudah damai, antara pelaku dan anak sudah damai. Ketika ditanya terkait orang tua APD yang membuat laporan ke Polda Jambi, Hasan menyampaikan jika pihaknya tidak mengetahui hal tersebut. Menurutnya Hasan semuanya sudah damai dan antara pelaku dan anak itu sudah dipertemukan serta tidak ada tuntut menuntut dan semua itu sudah selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *